Pantai Losari, Istri, dan Masa Lalu yang Pernah Saya Jalani

0

Pantai Losari, Istri, dan Masa Lalu yang Pernah Saya Jalani

Makassar, 1 Juni 2024

Kuakui, aku jarang meluangkan waktu untuk benar-benar bercengkerama dengan istriku.

Bukan berarti tidak pernah.

Hanya saja... terlalu jarang.

Kesibukan pekerjaan, rutinitas sehari-hari, perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, sering kali membuat kami lebih banyak berbagi kabar daripada berbagi waktu.

Kadang kami berada di rumah yang sama, tetapi pikiran masih sibuk dengan urusan masing-masing.

Kadang duduk bersebelahan, tetapi tangan masih sibuk dengan pekerjaan.

Begitulah hidup berjalan.

Tahu-tahu hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan kita baru sadar bahwa ternyata waktu untuk berdua semakin sedikit.

Malam itu, entah kebetulan atau memang sudah menjadi jalan yang dipertemukan Tuhan, agenda kami berdua hampir bersamaan.

Kami sama-sama berada di Makassar.

Hanya tempat kegiatannya yang berbeda.

Setelah semua agenda selesai, saya memberanikan diri mengajaknya keluar.

"Jalan-jalan sebentar, yuk."

Tidak ada rencana yang istimewa.

Tidak ada restoran mewah.

Saya hanya ingin menikmati malam bersamanya.

Dan akhirnya, kami memilih Pantai Losari.


Pantai yang Menyimpan Cerita

Malam itu terasa berbeda.

Angin laut berembus pelan.

Lampu-lampu kota mulai menyala.

Makassar seperti sedang memperlihatkan wajahnya yang lain.

Kami berjalan berdua menyusuri tepian pantai.

Tidak terburu-buru.

Tidak sedang mengejar waktu.

Untuk sesaat, rasanya seperti dunia memberi kami ruang untuk berhenti.

Saya melihat ke arah laut.

Kemudian tersenyum kecil.

Ada sesuatu yang tiba-tiba muncul dari ingatan.

Pantai yang sama.

Kota yang sama.

Tetapi saya yang berdiri di tempat ini sekarang bukan lagi orang yang sama.

"Dulu..." saya mulai bercerita kepada istriku.

"Awal tahun 2000-an, saya sering datang ke sini."

Dia mungkin mengira saya datang untuk menikmati suasana Pantai Losari seperti malam ini.

Ternyata tidak.

"Dulu saya ke sini bukan untuk jalan-jalan."

Saya berhenti sebentar.

"Saya mengamen."


Ketika Seratus Rupiah Punya Arti

Awal 2000-an.

Saat itu saya masih berada di fase kehidupan yang jauh berbeda.

Pantai Losari menjadi salah satu tempat saya mencari nafkah.

Bukan dengan pekerjaan yang sekarang.

Bukan dengan pakaian dan jabatan yang sekarang.

Saya datang membawa sesuatu yang sederhana.

Suara.

Berharap ada orang yang bersedia memberikan sedikit rezekinya.

Kadang yang dilempar hanya koin.

Seratus rupiah.

Lima ratus rupiah.

Saya kumpulkan satu demi satu.

Dan kalau sedang beruntung, saya berharap bisa mendapatkan selembar uang berwarna cokelat.

Bagi sebagian orang, mungkin nilainya kecil.

Tapi bagi saya waktu itu, setiap keping punya arti.

Ada nasi yang harus dibeli.

Ada kebutuhan yang harus dipenuhi.

Ada hari esok yang harus dijalani.

Tidak ada yang tahu seperti apa perjalanan seseorang hanya dengan melihat dirinya hari ini.

Mungkin orang yang melihat saya sekarang tidak akan pernah membayangkan bahwa pernah ada masa ketika saya berdiri di sekitar Pantai Losari, berharap suara yang saya keluarkan bisa berubah menjadi beberapa keping uang.

Dan saya pun tidak pernah menyangka bahwa suatu hari nanti saya akan kembali ke tempat yang sama...

Bukan untuk mengamen.

Tetapi berjalan berdua dengan perempuan yang menjadi teman hidup saya.


Mungkin Aku Terlalu Sibuk Mengejar Mimpi

Saya kembali melihat ke arah laut.

Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan.

Bukan sedih.

Bukan pula bangga.

Mungkin lebih tepat disebut haru.

Ternyata perjalanan hidup bisa membawa seseorang begitu jauh.

Dulu saya datang ke Pantai Losari untuk mencari beberapa keping rupiah.

Malam ini saya datang membawa istri.

Dulu saya memikirkan bagaimana caranya melewati hari esok.

Sekarang saya justru sedang mengenang hari-hari yang sudah lewat.

Dan tiba-tiba saya menyadari sesuatu.

Mungkin selama ini saya terlalu sibuk mengejar mimpi, sampai lupa menceritakan bagaimana perjalanan menuju mimpi itu.

Ada banyak cerita yang tidak pernah saya ceritakan kepada istri.

Tentang masa-masa sulit.

Tentang rasa malu.

Tentang rasa takut.

Tentang bagaimana rasanya berjuang ketika yang kita punya hanya sedikit.

Mungkin karena saya terlalu fokus untuk terus berjalan.

Saya pikir masa lalu tidak perlu diceritakan.

Toh, semuanya sudah berlalu.

Tapi malam itu saya sadar...

Masa lalu bukan hanya tentang apa yang sudah kita lewati.

Ia adalah bagian dari alasan mengapa kita menjadi seperti sekarang.


Malam yang Dulu Sulit, Kini Menjadi Indah

Angin malam kembali berembus.

Kami terus berjalan.

Saya tidak tahu apakah istriku benar-benar bisa merasakan apa yang ada di kepala saya malam itu.

Tapi setidaknya, untuk pertama kalinya saya membawanya masuk sedikit lebih jauh ke dalam perjalanan hidup saya.

Saya ingin dia tahu bahwa sebelum menjadi saya yang sekarang, ada seorang anak muda yang pernah berdiri di tempat ini.

Seorang anak muda yang mungkin tidak tahu akan menjadi apa dirinya kelak.

Yang dia tahu hanya satu:

harus terus bertahan.

Malam-malam di Pantai Losari dahulu mungkin merupakan salah satu masa tersulit dalam hidup saya.

Tetapi ternyata, justru dari masa-masa seperti itulah banyak hal saya pelajari.

Tentang keteguhan.

Tentang rasa syukur.

Tentang bagaimana menghargai sesuatu yang terlihat kecil.

Dan terutama...

tentang harapan.


Malam semakin larut.

Kami pun perlahan meninggalkan tepian Pantai Losari.

Saya menoleh sekali lagi ke arah tempat yang menyimpan begitu banyak cerita.

Dulu saya berdiri di sana sebagai seseorang yang sedang mencari jalan.

Kini saya kembali sebagai seseorang yang sedang menoleh ke belakang, melihat sejauh apa perjalanan yang sudah ditempuh.

Dan di samping saya ada perempuan yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan itu.

Mungkin benar...

kita sering terlalu sibuk mengejar masa depan sampai lupa mengajak orang yang kita cintai menikmati perjalanan menuju ke sana.

Malam itu saya belajar lagi.

Bahwa sesekali, kita perlu berhenti.

Berjalan pelan.

Bercerita.

Dan mengingat kembali dari mana kita berasal.

Karena pada akhirnya, mimpi bukan hanya tentang seberapa tinggi kita berhasil melangkah.

Tetapi juga tentang siapa yang berjalan bersama kita ketika kita sampai di sana.

Tags:

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)